Jumat, 13 Agustus 2010

Arema Buru Penyandang Dana


Arema Buru Penyandang Dana Arema Indonesia terbukti bukan tim sembarangan. Saat klub-klub masih sibuk mencari modal untuk mengoleksi pemain, tim kebanggaan Kota Apel malah sudah mempunyai tim lengkap. Bahkan 23 pemain sudah teken kontrak dan menyedot dana Rp14 miliar ketika tim belum mempunyai sumber dana jelas.

Setelah lepas sepenuhnya dari PT Bentoel, Arema praktis hanya mengandalkan pemasukan dari sponsor. Pada Indonesia Super League (ISL) 2009-2010 lalu, tim berjuluk Singo Edan masih disuntik Rp7,5 miliar dari PT Bentoel.

Musim ini, subsidi dari perusahaan rokok itu dihentikan. Praktis, Arema harus memenuhi kebutuhan secara mandiri. Padahal, kebutuhan untuk musim mendatang dipastikan naik karena Arema Indonesia bertarung di tiga kompetisi, yakni ISL, Piala Indonesia (PI) dan Liga Champion Asia (LCA). Diperkirakan total kebutuhan Arema minimal Rp30 miliar.

Hingga kini, Arema baru mendapatkan pemasukan recehan, yakni dari Lotto dan pemakaian hang tag. Lotto hanya menyediakan kebutuhan kostum dan pernik untuk pemain, sedangkan pemberlakuan hang tag atau royalti pada apparel berlogo Arema baru memberi pemasukan Rp500 juta sejak diberlakukan Maret 2010 lalu.

Memang, Arema bisa menarik uang dari penjualan tiket yang rata-rata memberikan pemasukan kotor sekitar Rp800 juta per pertandingan atau sekitar Rp10 miliar per musim. Juga hak siar Rp30 juta per pertandingan. Tetap saja Arema butuh sponsor besar.

“Belum ada sponsor utama yang resmi bekerjasama dengan Arema. Kita masih negosiasi, tapi optimistis akan mendapatkannya. Tapi kalau sponsor pendukung sudah ada,” kata Direktur Bisnis PT Arema Indonesia Siri Nurzanah. Sayang Siri Nurzanah tidak menyebut perusahaan mana yang tengah didekati.

Tapi kabar yang santer terdengar, Arema semakin dekat dengan Bank BRI. Kedekatan Arema dengan bank pemerintah itu sebenarnya sudah lama terdengar, namun belum ada kata sepakat. Nah, menyambut musim kompetisi 2010-2011, Arema semakin gencar melakukan lobi.

Selain membidik Bank BRI, sejumlah perusahaan lokal juga menjadi target penawaran Singo Edan. Soal nominal, paket promosi sangat bervariasi. Misalnya di kostum bagian dada atau sponsor utama dihargai Rp10 miliar. Sedangkan sponsor lain, misalnya di lengan seharga Rp2 miliar atau di punggung Rp5 miliar.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Arema Indonesia Andi Darussalam Tabusala mengatakan, sejauh ini belum ada deal dengan sponsor. Tapi dirinya yakin brand yang dimiliki Arema mampu menyedot sejumlah perusahaan untuk berinvestasi dengan bentuk sponsorship.

“Sejauh ini belum (deal dengan sponsor). Tapi mungkin dalam waktu dekat. Targetnya bukan hanya perusahaan lokal di Malang, tapi sudah dalam lingkup global. Untuk sementara manajemen yang akan menalangi kebutuhan tim,” kata Andi saat dihubungi.

Klub independen seperti Arema, menurutnya, dituntut cerdas dan professional dalam mencari sumber dana. Beda halnya dengan tim perserikatan yang tinggal mengajukan anggaran ke pemerintah. Dengan bekal predikat sebagai tim bergengsi, Andi percaya langkah Arema menggaet sponsor sangat terbuka. (kukuh setyawan/sindo)