
Kemenangan di depan mata itu akhirnya sirna. Sempat unggul lebih dulu lewat gol Chmelo Roman di menit ke-59, Arema yang bermain dengan 10 orang sejak menit ke-67 tak kuasa membendung perlawanan Persib Bandung yang terus mengurung pertahanan Singo Edan di waktu tersisa.
Seiring diusir keluarnya M Ridhuan, praktis Singo Edan tampil pincang di 23 menit tersisa waktu normal. Atep menjadi mimpi buruk pertahanan Arema. Winger enerjik Persib itu sukses mencetak gol penyeimbang kedudukan di menit ke-79. Hasil seri tersebut membuyarkan ambisi skuad asuhan Miroslav Janu untuk menghentikan rekor tak pernah menang di kandang Maung Bandung (julukan Persib) dalam beberapa musim terakhir.
Namun satu poin itu benar-benar harus dibayar mahal oleh skuad Singo Edan. Betapa tidak, menjamu Sriwijaya FC, Rabu (26/1) lusa, Arema nyaris kehabisan semua pemain inti. Dua pemain dipastikan absent. Ridhuan dan Roman Chmelo. Ridhuan absen karena kartu merah, sedang Roman terkena akumulasi kartu.
Daftar pemain yang absen akan bertambah kalau Kurnia Meiga, Dendi Santoso, Alfarizi dan Yongki Ariwibowo harus bergabung dengan pemusatan latihan timnas.
’’Mau bagaimana lagi? Inilah resiko yang harus dihadapi Arema. Seharusnya permainan tidak boleh dilanjutkan. Aturannya seperti itu. Keamanan tidak terjamin,’’ kata Miroslav Janu, pelatih Arema.
Dalam pertandingan itu sendiri, kedua tim saling obral serangan sejak peluit awal kick off ditiup wasit Najamudin Aspiran yang memimpin jalannya pertandingan. Arema lebih dominan menekan sepanjang 20 menit awal babak pertama. Singo Edan mengandalkan tusukan dan umpan-umpan lambung dari kedua sisi sayap.
Crossing Esteban Gullien dan M Ridhuan belum berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Noh ‘Along’ Alam Shah maupun Chmelo Roman yang diduetkan sebagai ujung tombak utama. Peluang terbaik Along di menit ke-11 juga gagal merobek jala gawang Persib. Menerima umpan manis dari Benny Wahyudi yang beroperasi di sisi kiri, tandukan penyerang timnas Singapura itu masih melebar tipis di samping kanan gawang yang dikawal Markus Haris Maulana.
Begitu pula kesempatan mencetak gol yang dimiliki Roman di menit ke-20. Pemain asal Slovakia itu menerima umpan pendek dari Dendi Santoso yang berhasil memasuki petak penalti lawan, sebelum akhirnya tinggal berhadapan dengan penjaga gawang. Sayang, tendangan mendatarnya masih mengenai kaki Markus yang sudah terjatuh.
Masuknya Siswanto menggantikan Agung Pribadi pada menit ke-28 membuat daya gedor Maung semakin bertambah. Pemain lincah bernomor punggung 22 itu cukup efektif dimainkan di posisi winger kanan. Pergerakan mantan penggawa Persema itu cukup sulit dihentikan sehingga merepotkan lini belakang Arema.
Terbukti, umpan terukur yang dilepaskan bekas pemain Persekabpas Pasuruan itu sempat menciptakan asa timnya untuk membuka skor. Beruntung tandukan Rahmat Affandi yang menyambut bola matang tersebut masih melambung tipis di atas mistar gawang yang dijaga Kurnia Meiga. Skor imbang 0-0 bertahan hingga turun minum.
Tuan rumah langsung tampil menggebrak usai jeda turun minum. Tim asuhan pelatih Daniel Roekito terlihat begitu bernafsu memburu gol cepat. Lima menit babak kedua berjalan, Persib sudah mengancam gawang tim tamu lewat aksi Pablo Frances. Namun tembakan keras mantan penyerang Persijap Jepara itu belum tepat sasaran. Bola masih melebar tipis di sisi kanan gawang Arema.
Sebaliknya, meski terus ditekan Arema justru mampu unggul lebih dulu. Berawal dari eksekusi tendangan bebas Esteban dari sisi kanan pertahanan Persib, terjadilah kemelut di muka gawang Maung Bandung. Bola liar lantas disambar oleh Roman yang berdiri tak terkawal.
Sepakan keras kaki kanan pemain bernomor punggung sembilan itu meluncur deras merobek jala gawang Markus yang telah mati langkah. Kedudukan berubah menjadi 1-0 untuk keunggulan Singo Edan.
Ketinggalan satu gol dari tamunya memaksa Persib bermain lebih offensif. Berulang kali para pemain tuan rumah melepaskan tembakan spekulasi ke arah gawang tim berlogo kepala singa. Kesigapan kiper Kurnia Meiga yang selalu sukses mengantisipasi setiap ancaman membuat anak-anak Bandung semakin frustasi.
Bertekad menjaga keunggulan untuk mencatatkan kemenangan prestisius di kandang Persib, petaka justru menghampiri Arema saat laga memasuki menit ke-67. Berawal dari insiden yang melibatkan M Ridhuan dengan bek Persib, Wildansyah, wasit Najamudin Aspiran akhirnya mencabut kartu merah dari sakunya.
Meski tidak melihat langsung kejadian sebenarnya, wasit memutuskan mengusir keluar M Ridhuan karena dianggap sengaja menyikut dada Wildansyah.
Apalagi, stopper Persib itu terus berakting kesakitan dan menggelepar di tengah lapangan. Kontan keputusan tersebut memicu reaksi keras dari para pemain Arema, utamanya Noh Alam Shah yang bertindak sebagai kapten.
Wasit bersikukuh pada pendiriannya kendati protes terus dilayangkan. Ridhuan pun akhirnya pasrah dan menerima kenyataan pahit untuk meninggalkan lapangan pertandingan. Namun, insiden lain justru muncul. Para pendukung Persib melakukan teror berupa pelemparan kepada kubu tamu. Meski aparat langsung bertindak, aksi brutal Viking dan Bobotoh Persib justru semakin menjadi-jadi.
Pertandingan pun terpaksa dihentikan untuk beberapa saat. Suasana mencekam Stadion Siliwangi malam itu benar-benar memaksa aparatur pertandingan berjuang ekstra keras untuk mengamankan keadaan. Situasi tak kondusif itu baru mereda setelah sekitar 30 menit kemudian. Laga pun kembali dilanjutkan dengan kedudukan Arema masih unggul 1-0. Sebelum akhirnya disamakan Atep di menit ke- 79.


