Senin, 24 Januari 2011

Viking Serang Bus Pemain



Sebuah perjuangan ekstra keras, benar-benar harus dilalui skuad Singo Edan saat bertandang ke Stadion Siliwangi, semalam. Satu poin yang diraih dari Persib, tidak didapat dengan mudah. Bahkan membawa korban cukup banyak.
Korban pertama adalah bus yang membawa pemain. Berangkat dari Hotel Topas menuju stadion, tidak ada patroli pengawal (patwal) yang mendampingi Arema.
Dampaknya bisa di tebak, memasuki kawasan Stadion Siliwangi, bus langsung diserang.
Beberapa batu menghujam ke kaca bus. Beruntung tidak sampai pecah dan mengenai pemain. Namun teror itu sempat membuat pemain tidak nyaman.
Namun teror itu tidak membuat pemain patah arang. Mereka justru tertantang untuk bisa mencuri poin dari kandang Maung Bandung. Terbukti, sepanjang pertandingan, Noh Alam Shah berhasil mengimbangi, bahkan menekan Persib.
Termasuk ketika pertandingan harus dihentikan menit 67, setelah M Ridhuan mendapat kartu merah, pemain tetap berada di tengah lapangan. Sementara Ridhuan yang dituding menyikut Wildansyah, dengan sportif menyalami Wildan sebelum keluar lapangan.
Tapi apa lacur. Justru suporter tuan rumah yang tidak terima dengan kondisi tersebut. Mereka melempari Ridhuan yang bermaksud meninggalkan lapangan. Merasa keselamatannya terancam, Ridhuan kembali ke lapangan.
Ternyata lemparan tidak berhenti, bahkan semakin deras. Lembaran bukan hanya berupa botol air mineral, tapi juga petasan ’sreng dor’ yang mengarah ke lapangan. Permintaan pemain Persib kepada bobotoh untuk menghentikan serangan, tidak ditanggapi.
Bahkan penonton mulai masuk lapangan untuk menyerang. Di beberapa sudut stadion, juga terlihat bobotoh mulai membakar bendera atau apapun yang bisa dibakar.
Sikap penonton itu juga dipicu sikap wasit masih berbelit-belit untuk mengeluarkan keputusan. Meski Wildansyah telah menggelepar dan mengerang kesakitan, Najamudin berdiskusi lama dengan asisten wasit untuk mengetahui kronologis kejadian sebenarnya. Para pemain Persib terus melancarkan provokasi, begitu pula Noh Alam Shah yang terlihat emosional melayangkan protes untuk membela rekannya.
Kondisi itu menyulut kemarahan para pendukung tuan rumah yang merasa tidak puas dengan kinerja wasit. Apalagi saat itu tim pujaannya dalam keadaan tertinggal 0-1 dari tamunya. Arema leading lebih dulu berkat gol Chmelo Roman di menit ke-59. Dari situlah awal kebrutalan pendukung Maung (julukan Persib) dimulai. 
Situasi kembali tertib setelah para ‘provokator’ yang sempat meneriakkan ‘Persib pindah LPI’ meninggalkan area stadion. Kedua kubu yang bertanding sepakat untuk melanjutkan 23 menit waktu tersisa di waktu normal babak kedua. Namun, Arema yang harus bermain dengan 10 pemain tak kuasa mempertahankan keunggulan. Atep sukses menyeimbangkan kedudukan lewat gol di menit ke-79.
Kondisi kontras justru terlihat di tengah lapangan. Pemain dari kedua tim, justru terlihat duduk-duduk santai sambil ngobrol gayeng. Meski tidak mengumpul jadi satu, namun di bagian-bagian lapangan, selalu ada pemain Persib dan Arema bergerombol saling berbicara nyaman.
Seperti Leonard Tumpamahu yang guyon dengan Maman Abdurachman dan Markus Horison. Atep, Along dan Eka Ramdani duduk di rumput sambil ngobrol ringan. Benny Wahyudi, Hariono dan Waluyo sambil berdiri bercanda penuh tawa. Esteban dan Pablo Frances, diskusi dengan bahasa mereka. Sama sekali tidak ada dendam atau permusuhan diantara pemain.
Padahal beberapa menit sebelumnya, pemain sempat bersitegang setelah Ridhuan diusir keluar. Tapi ketika wasit memutuskan kartu merah untuk Ridhuan dan pemain asal Singapura itu menerima keputusan tersebut, suasana kembali normal.
Aparat dan manajemen Persib butuh waktu sekitar 30 menit untuk menenangkan penonton. Termasuk menambah pasukan gabungan dari polisi dan TNI, agar aksi anarkis penonton tidak semakin brutal.
‘’Hasil imbang ini sudah cukup bagi Persib ketimbang kalah. Mereka terus melakukan teror. Mulai di depan stadion, kita sudah diteror dan dilempari. Sudahlah, kita tetap harus bersyukur bisa mencuri poin,’’ tandas Miroslav Janu.
Sayangnya, Miro harus berpikir keras untuk menyusun formasi menghadapi Sriwijaya FC di Jakabaring Palembang, Rabu lusa. Betapa tidak, dia harus kehilangan enam pemain pilarnya.
Ridhuan absen karena kartu merah, Roman terakumulasi kartu, setelah semalam menerima kartu kuning. Kemudian ditambah empat pemain yang harus gabung pemusatan latihan timnas. Mulai kiper Kurnia Meiga, Alfarizi dan Dendi Santoso, serta Yongki Ariwibowo. Jelas, sebuah kondisi yang tidak mengenakkan.
’’Seharusnya kita menang. Tapi situasi sangat tidak memungkinkan, setelah melihat wasit dan penonton seperti itu. Menang di sini (Siliwangi, Red.), memang tidak mudah,’’ ujar Roman.